Highlight

ANNOUNCEMENT: We are extended our magazine project deadline! So if you still have idea what do you want to know about Indonesia or want us to cover, share with us! Send email to buletin.bejana[at]gmail.com !

Buletin BEJANA ke-5 telah terbit!

Artikel terbaru oleh penulis BEJANA:
1) 81 Tahun Sumpah Pemuda, “Dari Pemuda, Untuk Indonesia”,
oleh Rizky Prima Sakti.
2) Teruslah Untuk Mencoba,
oleh Nafi Nur Rauf.

Lihat juga video presentasi kami tentang BEJANA! (video 1) (video 2)

biarkan harapan itu berbicara kelak: bahwa kita telah berhasil meraihnya.

2009 November 19
by penulisbejana

“Hope” is the thing with feathers– That perches in the soul– And sings the tune without the words– And never stops–at all– Emily Dickenson

Tidak terasa, waktu begitu cepat sekali berlalu. Tiga tahun sudah mengerahkan daya upaya, pikiran, dan tenaga selama menempuh studi di universitas ini. Universitas yang orang bilang seperti hutan belantara yang jauh dari hingar bingar kehidupan kota besar dan begitu minimnya hiburan yang tersedia bagi kami para mahasiswa Indonesia yang jauh dari tanah air kami diseberang sana. Universiti Utara Malaysia dengan kesunyiannya bagi saya justru membawa begitu banyak kenangan yang terlalu sulit untuk dilupakan. Ketika ‘mungkin’ dari kami merasa tidak betah, kecewa, suntuk, dan bosan dengan kehidupan monoton di universitas ini, justru saya merasa berbanding terbalik dengan hal itu (walaupun saya juga sempat merasakan hal seperti yang mereka rasakan).

kenangan selama di kampus UUM memang begitu beragam, adakalanya harus tertawa terbahak-bahak karena bahagia berkumpul bersama teman-teman, adakalanya harus pusing, suntuk, bosan, dan letih dengan rutinitas perkuliahan yang padat, monoton, dan terlalu banyak tugas dari dosen. Adakalanya juga harus super sibuk untuk membagi waktu antara terlibat aktif di organisasi dan tidak lupa melaksanakan kewajiban sebagai selayaknya seorang mahasiswa, yaitu belajar!, atau mungkin harus siap merasakan betapa pahitnya mengalami ‘homesick’ karena harus hidup dalam situasi yang jauh dari kehidupan nyaman di rumah bersama orang tua, saudara, dan teman-teman dekat kita di Indonesia.

Dari semua campuran kombinasi berbagai kenangan inilah yang justru membuat saya sulit sekali untuk melupakannya. Sungguh, pasti tidak akan mudah melupakannya.

Kenangan yang saya alami selama di kampus UUM mungkin tidak akan pernah saya dapatkan ketika saya berada di Indonesia. Karena saya mendapatkan hal-hal baru, unik, beragam, luar biasa, dan pembelajaran kehidupan yang sangat berbeda sekali. Saya berterimakasih kepada tuhan, ternyata ‘the dots connection’ dalam hidup itu pasti tetap yang terbaik buat hambanya. Dan begitu bodohnya, karena saya justru baru menyadarinya semua hal ini sekarang!

salah satu kenangan manis itu terbuka kembali, ketika saya sedang mempersiapkan dan mengemas barang-barang untuk dimasukkan kedalam koper sebelum saya harus meninggalkan kampus ini dalam rangka mengambil magang selama enam bulan di kuala lumpur. Ada sekumpulan kertas kecil, yang tersusun rapi, dan terikat dengan kuat oleh seutas karet gelang didalam selipan kantong kecil didalam koper besar saya. Yang saya ingat, tulisan itu sengaja disimpan untuk mengakomodir keinginan teman-teman di BEJANA, dan juga sebagai motivasi saya sebagai seorang pemimpin di BEJANA sekaligus sebagai kenangan bagi saya dan kita kelak.

saya coba membukanya, dan ternyata kertas itu berisi sekumpulan harapan-harapan, saran, dan juga kritik dari teman-teman yang bergabung ketika kita sedang begitu semangatnya membangun BEJANA diawal pembentukannya waktu itu.

saya membacanya satu persatu, ada perasaan bangga, senang, lucu, dan terharu atas beragam harapan yang teman-teman buat saat itu. Tidak tahu kenapa, ketika saya baca tulisan itu satu persatu, hal tersebut membuat saya harus menghela nafas panjang berkali-kali. Membaca satu persatu tulisan itu, dan coba mengingatnya kembali sehingga harus melompatkan pikiran ini kembali ke masa-masa dulu. Perasaan itu begitu campur aduk, mungkin tulisan ini belum cukup pantas dan belum mampu mengekspresikan sinergisasi perasaan saya yang begitu kuat ketika membaca tulisan tersebut.

Teringat dulu ketika sedang berkumpul bersama-sama di saung Pusat Kegiatan Pelajar (PKP). memang sudah cukup lama waktu itu, aku tidak ingat dengan pasti kapan kita berkumpul bersama. Yang aku ingat, kita berkumpul bersama atas nama keluarga besar BEJANA. Harapan-harapan yang ditulis sangat beragam, sengaja saya meminta teman-teman menuliskannya, karena saya percaya bahwa harapan inilah yang akan membawa terus semangat kita yang tidak pernah padam hingga kapanpun, tidak hanya sebagai keluarga besar BEJANA, tetapi juga sebagai keluarga besar Mahasiswa Indonesia di UUM. Karena kekuatan harapan dalam kebersamaan yang kita punya selama mendekam di dalam kerasnya kehidupan hutan Sintok justru akan menjadi kekuatan yang berharga bagi kita kelak di masa depan. Hal inilah yang membuat saya terus berharap dan berdoa, semoga kebersamaan kita terus terjalin rapat, kuat, dan berlangsung terus menerus tanpa lekang dimakan usia.

berikut ini adalah tulisan harapan, kritik dan saran dari teman-teman semua di BEJANA (tidak semua menulis pada saat itu):

selama di BEJANA,
- dapet kemampuan untuk menulis berita lebih rapi lagi. yaa lebih baik dari sebelumnya.
- penyebaran BEJANAnya kurang, jadi gak semua tahu BEJANA
- jujur, pw kesel sama orang yang gak ngerjain tugas BEJANAnya, trus minta diringanin lagi
kerjanya, padahal dia sendiri gak kerja.
- pw suka jadi sekretris BEJANA karena pw hobi nyatet
- buat bang rauf, kadang-kadang omongannya kelibet + formal. tapi kalo abang lebih santai,
mungkin lebih asik
- maaf bang, kerja pw moody, jadi kadang-kadang gak maksimal
- oiya bang, kalau pw mau jadi desain layout boleh bang? (Purwaning)

saran aku buat BEJANA:
- pengennya sih bisa disebarluaskan ke PPI yang dikampus lain dan pengen juga bisa dibaca
sama anak foreigner. biar orang juga tau kalo anak PPI itu kompak..hehehe

Kritik aku buat BEJANA:
- waduh gak ada, T.O.P Banget dah..mana anak2nya kompak dan alhamdulillah buletin
terwujud dengan bagus..hehehe
Sukses selalu buat Buletin. Amin yaa Rabb (Ayaz)

BEJANA harusnya lebih kompak, pengennya semua anggota bisa bekerja maksimal. gak ada lagi yang nampang nama doang. trus pengennya BEJANA lebih bagus kualitas tulisan + desainnya. Dan juga pengennya BEJANA dibolehin memakai desain yang lebih kreatif (maksudnya kayak majalah gitu..), trus di print warna, rasanya sia-sia ngedesain buletin tapi hanya di fotokopi. (putri)

pengen ngembangin kemampuan “hitam di atas putih”. Ide itu banyak tapi mau nulisnya susah, mana gak ada waktu..serius deh! (insyaallah bisa)..
Bang Rauf bagus mimpinnya, keep ur good work! (Uut)

Saya sih pengennya kasih kontribusi positif buat BEJANA terutama ketika kita lagi brainstorming. nah, tapi saya punya kesulitan memang..susah ngomong n suka blank. hehehe.
pengen bisa tau tentang semua kerjaan di BEJANA, terutama desain. Ahh, saya juga ingin menulis bukan karena deadline. Tentang rubrik pengetahuan, suka bingung mau nulis tentang apa?..hehehe (Uci)

Sebenernya bingung mau ngomong apa..hahaha
selama gabung di BEJANA, itu udah ok banget, tapi masalah muncul dari diri aku sendiri, aku gak bisa bagi waktu, nentuin prioritas, dll. terutama semester lalu, disaat BEJANA terbentuk, kerjaan aku rada gak beres, pointer ancur. nah di semester ini aku berusaha lebih baik dan bisa membagi waktu. Duh, sorry bang..Buru-buru jadi rada gak jelas nih. (Nadra)

Harapannya: semoga BEJANA semakin maju, kaderisasi berjalan lancar, trus buat aku pribadi semoga semakin semangat aja..hehehe (Mutia)

Workshop dibikin buat publik, dan dikenain biaya untuk masuk, tulisan atau cerita di BEJANA dibikin lebih menarik dan yang banyak orang belum tau, tulisan support 100% ‘in english’, fotografer kurang bekerja, 50% dari internet. (Helmi)

Untuk BEJANA selalu terus kompak!!..(sorry bang sebenernya bingung mau bilang apa..hahaha!!!), ‘the important is’ kita bersama-sama mengasah kemampuan jurnalistik, dll. Ada usulan bang, pengenya BEJANA ada cerbung (cerita bersambung), artikelnya kita buat semenarik mungkin, jadi para pembaca BEJANA semakin penasaran dan tertarik supaya terus membaca BEJANA..iya gak bang?..hehehehe..
Semangat Buat BEJANA (Hari)

Gw memang masih baru, jadi belum kenal dengan BEJANA. Alasan gw masuk BEJANA cuman karena menjadi seorang jurnalis adalah mimpi gw dari kecil dan mungkin baru sekarang, gw menemukan ‘medianya’. Jangan aneh yaa uf!! tapi bagi gw mimpi itu satu kunci buat sukses. Gw juga minta dukungan biar gw bisa konsisten sama BEJANA. Harapan gw buat BEJANA, semoga tidak hanya untuk mahasiswa Indonesia saja, tapi satu UUM bisa baca!! (Aminx)

Harapan: gw pengen bisa semua yang anak-anak BEJANA bisa.. nge-desain ini, itu, gambar ini, itu.. saling sharing yak! (Hani)

Saya mau menyibukkan diri saya, BEJANA sebagai wadah emosi saya, daripada nonjok orang! dan saya ingin tau bakat tersembunyi saya. (Eko)

Harapan: mau mengembangkan kmampuan menulis, mau lebih banyak gambar dan foto biar lebih menarik, keakraban dengan sesama anggota BEJANA, dan tulisan yang lebih bermutu lagi..hehehe (Ulka)

Gw terharu..kita semua udah berkembang dari bukan apa=apa menjadi ’sesuatu’, buat Rauf + Naufal, kalian adalah motivator paling mantap!!, untuk bagian editing nanti gw sumbangkan buku kamus besar bahasa Indonesia + buku George Kerof. (Adit)

Kontribusi, makan!! (Zulmi)

BEJANA keren!!!!, tapi sayang gak dianggep oleh UUM..apapun itu yang terpenting prosesnya! (Robi)

Pengen bisa nulis dan bisa desain, trus juga pengen bisa berkembang dalam jurnalistik terutama tentang penulisan, secara aku gak bisa menulis, pengen ngedesain juga, Mudah-mudahan bisa terwujud. Bantu yaa bang!!..Maaf Entertainment kemarin gak bisa dikirim, imelnya dobol (Ossa)

Harapan: bisa menulis yang baik dan benar, belajar desain layout dong..(pengen), masih banyak nih..males nulisnya..kedepannya bikin website buat BEJANA yukk..^.^. (Nanda)

Kalau ditanya tentang BEJANA hanya satu hal penting yaitu kebersamaan, namun terkadang kebersamaan itu dirusak dengan beberapa orang yang kurang konsisten dan bertanggung jawab, dengan keadaan ini diharapkan kedepannya konsistensi waktu dapat dicapai.(tidak menuliskan nama)

Kritik: isinya udah bagus, mungkin karena kurang full color..first impressionnya gaak kurang.
Saran: kalo ada duit, cetak warna, buat kolom saluc (salam dan ucapan) bang, siapa tau buat yang lagi diincer..hehehe, bang, agak bingung adek nih..tugas yang mesti dilakuin dan gimana? (Deka)

kritik: isi tulisan bagus, apa lagi yaa?
saran: cetak warna dong, desain lebih bagus lagi biar lebih menarik, buat kolom iklan supaya ada pemasukan, harus ada nilai jual, kalo bisa jangan gratisan, biar dihargai aja gitu..(Desfi)

Harapan buat BEJANA: tetap exist ajah dah.. membuat Ran belajar sesuatu yang baru lagi ajah..hahahaha..sudahlah bang, semangat sajah!!! (Rani)

Bang, bikin BEJANA isinya lebih menarik, terus ditambahin pengetahuan + sejarah Indonesia..
oiaa..punya ide nih, kenapa gak di setiap bulannya kita tambahin bahasan tentang provinsi di Indonesia yang jarang di ekspos, jadi nambah pengetahuan buat kita juga. Banyak anak Indo yang gak mengerti sama budayanya sendiri.
oiaa bang, aku gak bisa nulis, paling gak bisa menyusun kata-kata. Jadi cuma bisa gambar..pengen deh bisa bikin tulisan deh kayak abang, Hani, Naufal,. Tapi emang gak pinter sih dalam menyusun kata-kata…
Semoga BEJANA semakin asik + maju!! (Echa)

kosong (tanpa tulisan)..(Adi)

Perlu koordinasi antara penulis tambahan dengan redaktur. Sampai sekarang gw gak tau siapa yang sempet ngisi tulisan tambahan itu. (Febri)

Kesannya yaaa..jadi tau gimana ngedesain buat buletin..ngedesain yang mesti sesuai tema. Jadi punya kesibukan, keahlian yang Hesty punya ada lebih berarti.^.^..halaahh..
YANG AMAT SANGAT MENJENGKELKAN saat pengen nyicil kerjaan desain, tapi bahan baik foto atau konsepnya lama banget. Ujung-ujungnya deadline ngerjain satu malam. Dan makin MENGESALKAN semua baik tulisan, foto, dan sebagainya belum lengkap. Padahal kerjaan buat bagian redaksi bisa sampe satu bulan lamanya, sampe sempet niat, kalo masih keteteran kayak kemarin, mau ciaoo dari BEJANA..hehehehe, karena bagi saya, ketepatan waktu adalah segalanya. PEACE!!(Ethonk)

Sebagai reporter, rasanya agak susah juga. Kerja saya dipotong, ditambahin, atau gak ditaruh sama sekali T.T..Tapi ada kekurangan juga dari saya, nulis belum terlalu bagus, gak bisa ikut dalam segala kegiatan..so, at leat i’m still a member of BEJANA (reporter), i still love it. (Irvan)

Tulisan teman-teman diatas saya tulis ulang di notes ini, coba deh diingat kembali (semoga masih ingat). Bahwa tulisan itu asli, hanya perubahan sedikit dalam tanda baca saja.
semoga tulisan yang kita sempat tulis terus menjadi sebuah harapan bagi kita semua, bahwa kita pernah bersama-sama dalam keluarga BEJANA. Semoga bukan hanya harapan kecil yang kita tulis untuk BEJANA bisa terus hidup di dalam diri kita, akan tetapi harapan-harapan kita yang lainnya untuk terus bisa menjadi pribadi yang sukses dan mampu memberikan banyak manfaat kepada orang banyak. Mari jaga harapan yang kita punya, mari raih segala harapan yang kita miliki dan biarkan harapan itu terus bersemayam dalam diri kita dan ketika kita mampu meraih semua harapan kita dalam hidup, biarkan harapan itu berbicara kelak: bahwa kita telah berhasil meraihnya.

semangat terus kawan,

friday, 1:08:27am
6C120 Sime darby Room

81 Tahun Sumpah Pemuda, “Dari Pemuda, untuk Indonesia”

2009 October 28
by penulisbejana

Lambang Negara Indonesia

Jauh sebelum Malaysia mencanangkan konsep 1Malaysia (tahun 2009), bangsa kita, Indonesia, telah terlebih dahulu melahirkan konsep 1 Indonesia. 1 tanah air, 1 bangsa, dan 1 bahasa, Indonesia.

Tepat 81 tahun yang lalu, 28 Oktober 1928 di Jalan Kramat raya 106, Jakarta, ribuan pemuda datang dari berbagai daerah utusan dari beragam organisasi kepemudaan dan berkumpul pada Kongres Pemuda II. Satu hal yang patut diapresiasi mengingat kejumudan kepentingan yang ada diantara beragam organisasi pada masa tersebut. Ada yang bersifat kedaerahan, ada yang bercorak ke-Islaman, dan ada yang berideologi kebangsaan. Namun, para pemuda berkumpul, bersatu dan mengesampingkan itu semua. Tidak peduli dari warna apakah mereka berasal, dari etnik apa mereka berangkat, dari ideologi mana mereka anut. Mereka berkumpul bukan karena itu semua, melainkan karena satu semangat kebangsaan, semangat Indonesia.

Sumpah Pemuda adalah Ikrar dalam kongres pemuda ke II di Jakarta yang menyatakan bahwa Putra Putri Indonesia mengaku bertumpah darah satu, menjunjung bahasa persatuan, dan berbangsa satu yaitu Indonesia. Hal ini bukan omong kosong dan bukan pekerjaan dalam waktu singkat, dan juga bukan hasil usaha dari beberapa gelintir orang saja. Sumpah Pemuda tentulah pencapaian pemuda yang paling penting. Sebuah pernyataan sikap, sebuah kristalisasi dari semangat kebangsaan yang tunggal, semangat kebangsaan yang tertinggi. Semangat kebangsaan yang tidak lagi dijerat oleh kotak-kotak masa lalu. Semangat kebangsaan yang melampaui ikatan-ikatan lama, ikatan-ikatan primordial, yang selalu menyeret mereka dalam pertentangan yang melelahkan dan menguras energi. Hal ini membuktikan bahwa pergerakan dan perjuangan bangsa ini tak lepas dari peran para pemuda.

Jika dulu pemuda indonesia melihat krisis dinegeri kita, dengan lantang mengikrarkan sumpah pemuda. Untuk mempersatukan seluruh komponen bangsa, apapun partai politiknya, daerah mana, budayanya apa, kampung atau kota, miskin atau kaya, pejabat atau rakyat biasa. Semuanya dengan sungguh-sungguh dari hati meneriakkan sumpah pemuda yang menggetarkan seluruh jiwa raga pemuda indonesia Mereka mengorbankan nyawa untuk mengusir penjajah. Namun, apakah yang berlaku bagi para pemuda pada zaman post-modern ini? Apakah kita telah berbuat dan bersikap layaknya para pemuda angkatan 1928 tersebut?

Potret Nasionalisme Bangsa Indonesia adalah dengan mengukur seberapa besar kecintaan pada Negara Indonesia, Semangat Bela Negara, Semangat membangun bangsa sesuai kemampuan. Bukti nyata dari kesetiaan terhadap bangsa ini adalah dengan selalu menegakkan kebenaran, kejujuran dan keadilan. Suatu hal yang sangat kontraproduktif melihat kenyataan yang berlaku dewasa ini. para pemuda telah dinina-bobokan oleh berbagai kemewahan dan keglamoran era post-modern sekarang. Rasa memiliki Indonesia telah tergerus oleh paham-paham western yang telah menembus pemikiran-pemikiran para pemuda, terutama paham-paham materialistis dan kapitalisitis. Hingga membuat semangat ke-Indonesiaan pemuda luntur dan dibiarkan tergerus oleh zaman.

Seandainya golongan pemuda 1928 kembali ke zaman sekarang, saya pikir tentulah mereka akan sedih dan menangis melihat kondisi pemuda sekarang. Semangat kebangsaan yang telah mereka bangun dengan susah payahnya, tergerus oleh paham-paham western yang meracuni pemikiran pemuda dewasa ini. Tentulah mereka akan sedih melihat kenyataan ini. Bangsa kita adalah bangsa yang besar, bangsa yang dibangun dengan perjuangan bukan dengan meminta-minta. Bangsa kita adalah bangsa yang heroik, bukan bangsa yang tak punya harga diri. mengutip kata Soekaro, “Bangsa kita adalah bangsa yang rela berkorban dan tertindas demi pembelian sebuah cita-cita”.

Sekarang, sudah saatnya para pemuda untuk bangkit dan menyalakan semangat ke-Indonesiaan. Berpartispatif dan berkontributif dalam pergerakan dan pembangunan Indonesia. Melakukan orientasi kritis kedepan untuk membuat bangsa ini lebih baik kedepan. Berpikir positif dan melakukan pencerdasan sosial politik kepada masyarakat. Itu semua adalah peran yang harus diemban pemuda sekarang. Masa depan bangsa Indonesia berada ditangan kita, di tangan para pemuda. Jangan biarkan pemuda angkatan 1928 kecewa dengan kita. Jangan biarkan Malaysia, yang baru saja mengeluarkan konsep 1Malaysia melewati nasionalisme kita. Saatnya kita berbuat dan berkarya untuk bangsa, dari pemuda untuk Indonesia…………

-Rizky Prima Sakti-

Teruslah Untuk Mencoba

2009 October 21
by penulisbejana

Tugas kita bukanlah untuk berhasil.
Tugas kita adalah untuk mencoba,
karena didalam mencoba itulah
kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil
(Mario teguh)

Entah ada angin apa, semua orang menunjuk secara serentak dan sebulat kata untuk memilih aku menjadi pimpinan umum sebuah organisasi baru. Organisasi yang baru saja dibentuk, tidak ada dasar sama sekali, belum ada kegiatannya, dan harus memimpin banyak orang baru disitu. Yaa BEJANA namanya. Nama filosofis yang berakulturasi dari sebuah nama yang berarti sebuah wadah. Wadah yang berguna untuk pengembangan kami sebagai mahasiswa indonesia yang sedang mencari ilmu di malaysia.

Itu dulu, satu tahun yang lalu. Satu tahun yang menurut saya memang penuh perjuangan. Bagaimana tidak dianggap sebagai sebuah perjuangan, banyak hal yang harus dilakukan untuk organisasi ini, aku hanya berfikiran bahwa membentuk organisasi di awal adalah lebih sulit dibandingkan untuk mengembangkannya. Hal ini karena, membentuk sama saja harus menyiapkan sebuah pondasi kokoh untuk organisasi ini, semakin kokoh tentunya semakin kuat organisasi ini mengembangkan dirinya dengan dinamika-dinamika yang akan berlangsung di masa depan.

Perjalanan perjuangan ini memang berat, untungnya aku punya temen-teman yang luar biasa yang berkecimpung di organisasi ini. Tanpa mereka, organisasi ini bukan apa-apa. Tidak akan seperti sekarang, tidak akan punya karya tentunya. Mereka semua dan keunikannya menjadi sebuah sinergi dan kombinasi yang luar biasa. Mereka punya keinginan, kreativitas, dan semangat terus menerus untuk mencoba secara bersama-sama membangun organisasi ini dari awal. Karena kami sadar, bahwa organisasi ini adalah tonggak awal berdirinya unit kegiatan mahasiswa di bawah Persatuan Pelajar Indonesia Universiti Utara Malaysia (PPI UUM) dan berharap organisasi ini akan terus bisa eksis dan hidup selalu di masa depan. Mungkin di suatu saat nanti, kita semua akan datang kembali ke kampus ini sebagai alumni, dan bisa menyaksikan sembari tersenyum senang melihat adik-adik kita sedang mengadakan rapat redaksi untuk membuat karya-karya lain yang lebih baik dari yang pernah kita buat.

Tapi yang aku harus garis-bawahi selama memimpin organisasi ini adalah berani untuk mencoba. Berani mencoba menjadi sebuah amunisi ampuh untuk aku dan kawan-kawan semua. Bagaimana tidak penting arti sebuah “mau mencoba”, kami tidak punya bekal pengetahuan apalagi pengalaman mengenai hal-hal berkaitan dengan jurnalistik, apalagi untuk membuat sebuah buletin. Bingung, blur, dan tidak punya gambaran apapun cara membuat buletin yang betul dan memenuhi standar. Tapi kita punya hal tersebut, kemauan untuk mencoba dan terus melakukan perbaikan sedikit demi sedikit untuk menjadi lebih baik.
Teringat diawal sekali akan membuat buletin, kami sendiri sempat merasa tidak yakin bisa membuat buletin ini. Tapi pada kenyataannya?

Itu semua terbukti!
Itu semua bisa terealisasi!
Itu semua bisa terpenuhi!
iItu semua bisa dilakukan dan keyakinan itu pun semakin menguat!

Semangat untuk mencoba itulah yang kami punya diawal perjalanan perjuangan kami, hingga pada akhirnya satu tahun itu bisa kita lalui dengan beberapa karya. Walaupun belum mampu menghasilkan lebih banyak karya, akan tetapi kita sudah berani mencobanya. hingga karya itu benar-benar ada. bisa dilihat, disentuh, dan dinikmati oleh semua orang. Selain itu kita bisa tersenyum puas, bahwa kita sebagai mahasiswa indonesia yang sedang studi di luar negeri juga punya kontribusi untuk negeri kita tercinta, Indonesia! Walaupun masih tampak kecil, paling tidak kontribusi yang kita berikan untuk indonesia bisa kita mulai dari pemikiran kita yang masih belum borokan, dan tangan kita yang masih mampu membuat goresan untaian kalimat-kalimat yang terangkai menjadi sebuah tulisan untuk disampaikan kepada semua orang. Bukankah menulis lebih efektif dibanding harus berkoar-koar meneriakkan arti kata kesejahteraan dan keadilan serta perbaikan untuk negeri? Berbanggalah kawan, karena sebuah karya tulisan mampu bergaung sepanjang zaman, sedangkan berbicara hanya mampu bergaung sepanjang koridor. Ingat itu, kawan!

Saya sangat berharap, kemauan untuk mencoba untuk terus menulis dan menghasilkan karya-karya baru tetap menjadi sebuah budaya yang melekat di dalam BEJANA itu sendiri. Sehingga apabila budaya sudah mengakar, semoga saja bisa juga kita tularkan dan bisa memberi manfaat kepada teman-teman lain sesama mahasiswa Indonesia di Universiti Utara Malaysia dan mungkin saja mampu menjangkau masyarakat di dunia.

Semangat untuk terus mencoba ini harus ditularkan sebagai sebuah budaya milik BEJANA. Kepengurusan yang lalu sudah bisa membuktikan betapa hebatnya keberanian dan semangat untuk mencoba menghasilkan banyak kegiatan dan karya.

Tidak perlu takut!
Tidak perlu khawatir!
Tidak usah merasa pesimis!
TIdak perlu merasa tidak yakin!

Ketika kita sudah mencoba, pasti ada jalan yang terbuka lebar untuk kita bisa meraih apapun yang kita inginkan. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: “Where is a will, there is a way”.

Satu hal lagi, berhasil itu dilihat dan ditentukan dari seberapa keras kita berusaha mencoba yang sebaik dan semaksimal mungkin untuk berkarya dan bisa menghasilkan sesuatu. Ketika di dalam proses kita mau mencoba dengan sekuat tenaga, keberhasilan itu akan menjadi peluang yang akan terbuka di depan mata kita semua.

Untuk pengurus yang baru dibawah komando Muhammad Naufal Shahensah untuk periode 2009/2010. Terus semangat dan jangan pernah untuk berhenti mencoba. Tanpa mencoba kita tidak akan pernah bisa untuk lebih baik dan lebih maju lagi di masa depan.

Tugas kita bukanlah untuk berhasil, tetapi untuk mencoba sebaik mungkin. sehingga keberhasilan itu akan bisa hadir dengan sendirinya.

Terus semangat dalam berkarya kawan-kawan semua.!!
Jangan pernah berhenti untuk berkontribusi!

Terimakasih buat semua kenangan luar biasa, dan pembelajaran keorganisasian dan hidup selama memimpin BEJANA pada tahun pertama didirikannya organisasi ini.

Nafi Nur Rauf.

Buletin ke-5

2009 October 13
by buletinbejana

Silahkan dibaca edisi ke-5 buletin BEJANA. Mohon maaf sekali karena harus terlambat untuk terbit, dikarenakan keterbatasan waktu dari teman-teman yang terlibat dalam pembuatan buletin yang mengharuskan membagi padatnya waktu dan kegiatan perkuliahan dengan membuat buletin ini. Serta, buletin BEJANA akan kami tampilkan secara online via scribd.com, mengingat lebih murah (tidak memerlukan biaya percetakan), mudah untuk dikonsumsi (karena hampir semua mahasiswa sering online).

Link Buletin ke-5 dan Link Buletin ke-5 bag khusus

Kritik dan saran kami tunggu di: bejana_ppiuum@yahoo.com

Salam hangat,
BEJANA
(Menyampaikan yang Pantas, Membangun Intelektualitas)

Refleksi Gempa Bumi di Padang

2009 October 13
by penulisbejana

Foto "Refleksi Gempa Bumi di Padang"

Pusat Konvesyen, UUM, Sintok, Kedah, Malaysia, 13 Oktober 2009 – Afriva Khaidir, kandidat PhD di College of Law, Goverment, and International Studies (COLGIS) Universiti Utara Malaysia, menuturkan pengalamannya tentang gempa bumi yang terjadi di Padang tanggal 30 September 2009. Dia diminta oleh TNC UUM untuk berbagi pengalaman dengan staf dan mahasiswa-mahasiswi yang berada di UUM. Peserta yang datang tidak terlalu meriah dan acara tertunda dari jam 2 ke jam 3, walau penuturan Pak Afriva membawa hikmah yang mendalam, ditutur dengan campuran Bahasa Melayu dan Bahasa Indonesia:

“Saya memang sedang berada di tempat kejadian itu berlaku dan saya pasti menjadi mangsa (korban) sekaligus walaupun secara umum keluarga saya dan rumah tidak seteruk (separah) korban-korban yang lain. Tapi saya ingin berbagi apa yang terjadi.”

Berikut adalah file PPT “Refleksi Gempa Bumi di Padang” oleh Afriva Khaidir.

Kami Punya Cara Berbeda Atas Pengukuhan Batik Indonesia oleh UNESCO

2009 October 3
by penulisbejana

Foto "Membalut Sintok dalam Batik"
(Foto oleh PANDA PPI UUM)

Kami punya cara berbeda untuk merayakan keputusan dan penetapan UNESCO (United Nations of Education, Science, and Culture Organization) atas batik sebagai salah satu world intangible heritage dari Indonesia. Ketika euforia perayaan ditanah air ditunjukkan dengan memakai batik sebagai simbolisasi ditetapkannya salah satu peninggalan budaya Indonesia tersebut, dan juga sebagai wujud untuk menjaga dan menghargai akan salah satu khazanah budaya yang kita miliki.

Justru kami tampil dengan konsep yang berbeda dengan perayaan ditanah air. Mahasiswa Indonesia yang tergabung di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) di Universiti Utara Malaysia (UUM) pada (02/10) justru merayakannya dengan melakukan aksi damai, yaitu berjalan kaki mengelilingi berbagai tempat strategis di penjuru kampus memakai baju batik, dan melakukan doa bersama sekaligus penggalangan dana untuk para korban bencana gempa bumi di Padang, Riau dan Bengkulu.

Diawali dengan berkumpul di depan perpustakaan Sultanah Bahiyah dengan mengenakan corak batik yang beragam pada pukul 15.30 sore waktu Malaysia, aksi kampanye yang dihadiri oleh hampir 100 orang mahasiswa Indonesia ini dimulai dengan memanjatkan doa bersama untuk para korban gempa bumi, dilanjutkan dengan aksi damai berjalan kaki mengelilingi kampus, diselingi juga dengan berfoto bersama, membagikan selebaran yang berisi mengenai berita penetapan batik Indonesia oleh UNESCO, penjelasan mengenai sejarah dan asal usul, dan juga berbagai pengetahuan tentang batik kepada warga kampus baik itu mahasiswa lokal (Malaysia) dan Internasional.

Aksi ini merupakan salah satu kepedulian kami sebagai bagian dari masyarakat Indonesia di Malaysia, apalagi akhir-akhir ini konflik kebudayaan dan saling klaim mengklaim antara Indonesia dan Malaysia mengenai kebudayaan terkadang timbul dan memanas. Untuk itulah, mahasiswa Indonesia yang merupakan duta bangsa di Malaysia merasa terpanggil dan bertanggung jawab untuk menjadi garda terdepan dalam mengatasi isu-isu yang berlaku diantara kedua Negara serumpun ini. Atas hal tersebut, selain sebagai sebuah perayaan dan ucapan rasa syukur atas pengukuhan batik oleh UNESCO, aksi ini merupakan cara untuk memperkenalkan budaya Indonesia di Malaysia dan di mata Internasional, dan hal tersebut juga sebagai salah satu upaya penegasan kepada semua pihak terutama Malaysia bahwa batik adalah milik Indonesia secara sah setelah diakuinya batik Indonesia oleh UNESCO di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.

Aksi ini berakhir di DEWAN Muadzam Shah, UUM pada pukul 6 sore waktu Malaysia.

Ada Apa Dengan Bangsaku? Entahlah..

2009 August 25
by penulisbejana

HALAHHHHHHHHH!!!!!!!!!! Kakean bacot malingsia, perang aja !!!!hancurkan malingsia!!!! anjing babi negara malingsia yang suka menyiksa TKI dan mengCOPY PASTE kebudayaan INDONESIA!!!

beginilah ungkapan emosi salah satu putra/putri bangsa yang saya ambil dari sebuah situs internet. saya tahu, ungkapan seperti ini mungin hanya segelintir orang saja yang mengungkapkan emosinya dengan cara yang seperti ini. menarik bukan? sungguh menarik pandangan saya melihat komentar dari seseorang tersebut.begitu sopan komentarnya? aku sempat tidak percaya, apa mungkin orang Indonesia yang berkomentar seperti ini? yang aku kenal dari masyarakat indonesia bukannya kesopanan dan tutur bahasa yang baik?entahlah…

Indonesia dan Malaysia yang merupakan saudara serumpun ini sedang didera konflik panas dan terus saja berkepanjangan. konfliknya memang belum sampai terjadi perang fisik, akan tetapi dampak konflik ini sungguh membuat gerah kita semua terutama saya sendiri.

saya gerah sekali melihat kondisi dan situasi yang berkembang saat ini antara kedua negara, cukup sudah perdebatan, penjelasan, dan memberi kepahaman kepada teman-teman dan sahabat saya di Indonesia dalam menyikapi hal ini. ketika perbincangan terjadi tentang indonesia dan malaysia antara saya dan sahabat saya, hanya ada pertanyaan dan ungkapan terlontar yang seperti ini:

Uf, kenapa sih Malaysia terus mencuri kebudayaan kita?tolong bilangin ke orang Malaysia, berhenti mencuri dan mengklaim kebudayaan kita!!(dengan ungkapan yang emosional)

sahabat saya yang lain pun juga ikutan mengungkapkan:

Emang bangsat tuh Malingsia!bilangin uf, kalo mereka masih kayak gitu juga. kita siap peran dan angkat senjata!!jangan pernah mau harga diri bangsa kita diinjak-injak, mereka betul-betul menghina kita!!

menanggapi tanggapan sahabat saya tersebut, saya hanya bisa tersenyum kecut. ada apa dengan semua ini semua?ketika klaim malaysia mengenai tari pendet belakangan ini, semua masyarakat Indonesia gerah sekali. mereka merasa bahwa Malaysia telah dengan tidak sopannya mencuri kebudayaan kita, hal ini membawa implikasi emosi tingkat tinggi dan kekecewaan yang dalam terhadap malaysia. hingga mindset “sebagian” orang Indonesia begitu negatif terhadap malaysia.

lagi-lagi saya hanya bisa tersenyum kecut dan mencoba mencari tahu dari berbagai sumber tentang permasalahan yang sedang panasnya di tanah air, serta mencoba menjelaskan sebaik mungkin dengan cara yang baik dan positif mengenai permasalahan ini dari sudut pandang saya, yaa..saya seorang mahasiswa Indonesia yang sudah hampir 3 tahun merasakan kondisi yang sebenarnya disini. ketika saya mencoba menjelaskan ke sahabat saya terhadap kondisi yang sebenarnya, tiba-tiba mereka semua hanya bisa menjawab seperti ini:

Uf, elo masih WNI (warga negara indonesia) kan? elo masih orang Indonesia kan? kenapa sih elo cenderung biasa aja menanggapi hal ini dan sepertinya kok elo membela malaysia sih?

untuk hal ini saya dengan lantang menjawab:

walaubagaimanapun dan dalam kondisi apapun, Indonesia sudah terstempel dan tidak mungkin hilang didadaku!! Indonesia tidak akan pernah sedikitpun hilang dari jiwa dan ragaku!! Indonesia tetap ada didalam sanubariku!tidak ada yang bisa menggantikan, walaupun aku memang harus meninggalkan indonesia sementara saja untuk menuntut ilmu di negeri orang..

aku sebenarnya tidak pernah membela Indonesia ataupun Malaysia mengenai hal ini. tapi sebagai seorang akademisi, aku coba mencari kebenaran dari berbagai sumber yang ada. mencoba mencari informasi terlebih dahulu, mengamati perkembangan berita yang terjadi, menganalisa, membuat diskusi-diskusi singkat dengan teman-teman mahasiswa Indonesia, dan mencoba menarik benang merah atas permasalahan yang terjadi, dan berusaha mengambil keputusan yang pas dalam melihat situasi dan kondisi yang terjadi. bukankah ini cara yang seharusnya kita lakukan dalam menyikapi hal ini?tapi kenapa semua orang mudah sekali emosi, menjudge, dan mudah sekali terprovokasi dengan berita yang ada.

sebetulnya, isu yang panas ini antara Indonesia dan Malaysia terjadi karena mungkin kita terlahir sebagai saudara serumpun. pertentangan isu dan hak-hak warisan kebudayaan menjadi sangat sensitif sekali. sedikit saja isu kebudayaan timbul, semua masyarakat Indonesia bereaksi. tapi yang saya sesalkan, kenapa reaksi yang timbul begitu negatif dan sangat provokatif? kenapa tidak mencari jawaban dari sudut-sudut pandang yang lain, baik, dan positif?kenapa lebih suka sekali mencaci dibanding harus beropini dengan sopan?kenapa lebih suka menghujat dibanding harus bertutur dan berbudi bahasa yang baik?

ahh,sudahlah mungkin mulai sedikit luntur identitas kita yang katanya kita ini masyarakat yang ramah, sopan, dan berbudi bahasa yang baik. Yang mengherankan juga, ketika pemberitaan di Indonesia begitu panas, kenapa kita mudah sekali terprovokasi?

kita mencak-mencak karena kita merasa kecolongan karena Malaysia telah mengklaim kebudayaan kita?tapi lagi-lagi saya bertanya, kenapa kita baru sibuk sekarang?kenapa kebudayaan kita tidak dijaga dari dulu dan dilestarikan sedemikian rupa?kenapa pemerintah Indonesia baru sibuk seperti kebakaran jenggot untuk mempatenkan kebudayaan kita?entahlah…

selain itu, kita merasa identitas kita sebagai orang Indonesia terinjak-injak dikarenakan sikap Malaysia yang mencuri kebudayaan kita. tapi lagi-lagi saya bertanya, kenapa kita begitu bangganya apabila mengadopsi gaya western countries dibanding menggunakan gaya adat jawa?. kenapa kita lebih senang mempergunakan alat musik band dibanding mempermainkan gamelan atau angklung?. kenapa juga kita lebih nyaman menonton ke 21 dibanding kita menyaksikan pagelaran wayang kulit?atau kenapa kita justru tertawa terbahak-bahak ketika ada teman kita yang memakai bangklon dan bergaya adat jawa di kesehariannya?entahlahh..

entahlah, ada apa dengan bangsaku saat ini. lebih banyak yang lebih suka berbicara alias cuap-cuap daripada harus mengambil tindakan atas semua yang terjadi. lebih senang mencaci maki negara lain dibanding harus mempelajari dan mengambil hikmah atas apa yang terjadi saat ini. apa karena Indonesia sudah memiliki segalanya (hutan yang luas, laut yang luas, ribuan pulau yang terbentang, kekayaan alam yang melimpah,dsb) kita seperti terlena?

entahlah…

Merdeka Untuk Menjadi Miskin

2009 August 23
by penulisbejana

Selamat Hari Kemerdekaan yang ke-64, Republik Indonesia!

Merdeka adalah saat dimana kita bebas untuk berbangga menjadi diri sendiri, dan bukan malah malu dan berpura-pura menjadi orang lain.

Masih segar di ingatan saya, suatu hari di Taiwan ketika saya memperkenalkan Indonesia didepan teman-teman Aiesecer Taiwan dan teman-teman sesama Exchange Participant.

Ketika itu saya memasang foto perayaan 17an, dimana sedang dilaksanakan lomba panjat pinang.

Salah seorang rekan dari Canada pun spontan bertanya kepada saya, “Ada apa dengan sepeda-sepeda di atas pohon itu?”

Saya tersenyum.

“Pada kenyataannya, Indonesia bukanlah negara yang kaya. Sebagian besar rakyat kami masih berkutat dibawah garis kemiskinan. Inilah cara kami, orang-orang miskin, untuk merayakan kemerdekaan. Dengan aktivitas kerakyatan yang sederhana dan hadiah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami saja.”

Semua orang di ruangan itu terdiam.
Ada yang mengernyit, ada yang menganga.

Apa yang salah sih dengan mengaku miskin? Menjadi miskin bukan sesuatu yang memalukan, kok. Yang memalukan itu kalo ketahuan maling, nyontek, fitnah orang… lah ini??!

Jujur saya sudah muak sama mindset manusia jaman sekarang. Pengennya kaya, berkuasa, populer, dsb dsb yang berbau materi semua. Apa sih yang begitu hebatnya dari menjadi kaya?

Saya pernah baca artikel tentang bangsa paling bahagia di KASKUS dan saya sungguh tercengang ketika mendapatkan fakta bahwa bangsa paling bahagia di dunia ini bukanlah bangsa yang paling kaya, paling berkuasa, atau paling populer.

Bangsa yang paling bahagia di dunia ini, menurut artikel tersebut, adalah Denmark.

Untuk detailnya, mungkin anda bisa merujuk ke artikelnya. Tapi yang ingin saya tekankan disini, materi tidak bisa membeli kebahagiaan.

Coba anda perhatikan foto dibawah ini:

foto ini saya pinjam dari http://ruangfoto.donnyreza.net/20080817/potretkemerdekaan/foto ini saya pinjam dari http://ruangfoto.donnyreza.net/20080817/potretkemerdekaan/

Ironis sekali.

Kadang saya bertanya-tanya sendiri, bagaimana Indonesia, yang semua orang tahu merupakan negara miskin sekarang, sebagian rakyatnya masih sangat konsumtif sekali.

Fenomena Blackberry, misalnya.
Sungguh heran saya melihat bahkan ABEGE di Indonesia (yang notabennya masih bergantung sama orang tua) pun sudah banyak yang mengantongi BB. Untuk apa? Online Facebook 24 jam?

Atau fenomena fastfood yang benar-benar menggelikan.
Bagaimana mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia sangat berbangga hati bisa pergi makan ke KFC, sementara di negara-negara maju makan fastfood merupakan pilihan terakhir yang akan diambil.

Saya melihat rakyat kita berada dalam penjara pikiran yang kita ciptakan sendiri.
Kita tidak mau dinilai miskin. Kita ingin terlihat seperti bangsa-bangsa kaya diluar sana, yang akhirnya malah membuat kita jadi terlihat bodoh.

Pastilah industri-industri elektronik gadget seperti Apple dan Nokia sedang menertawai kita sekarang. Begitu juga dengan industri kendaraan, baik beroda dua atau empat.

Kenyataannya, bangsa-bangsa diluar sana mulai menyadari bahwa materi, sungguh, tidak bisa membeli kebahagiaan. Mereka mulai kembali ke kehidupan yang sederhana, mulai mengganti gaya hidup mereka ke gaya hidup sehat dan mencintai lingkungan.

Sementara kita, yang awalnya sudah berada pada tahap itu, baru mulai bergerak ke gaya hidup hedon yang mulai bangsa lain tinggalkan.

Saya benar-benar merindukan cengiran bocah yang kegirangan bisa mandi hujan, dan bukannya diam-diam membeli kondom.

Saya merindukan nikmatnya makan lalapan dan petai dengan sambal terasi, dan bukannya meneguk wine di restoran bintang tujuh.

Apakah masih ada pemuda/pemudi yang benar-benar bangga menjadi orang Indonesia?
Yang menikmati tarian bali, musik gamelan, dan budi bahasa yang indah?
Yang masih menghargai norma-norma kesopanan dan kesusilaan?
Yang tidak mengeluh ketika diajak pergi ke pasar tradisional?

Mari kita sama-sama memikirkan jawabannya.

Kembali teringat, dalam penutupan presentasi saya tentang Indonesia di Taiwan hari itu:

Seperti yang anda lihat, Indonesia bukanlah negara kaya. Kebanyakan perayaan yang kami adakan memang sangat sederhana, dan mungkin anda semua tidak bisa melihat letak menyenangkannya. Tapi tak apalah. Karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda tentang kebahagiaan. Bagi kalian mungkin kebahagiaan adalah ketika setiap orang memiliki ruang masing-masing. Tetapi bagi kami, kebahagiaan adalah ketika berbagi sesuatu yang sedikit dengan banyak orang. Bagi bangsa miskin seperti kami, hal-hal seperti yang saya tampilkan tadi adalah kebahagiaan kami. Dan saya selalu bahagia menjadi bagian dari bangsa miskin ini.

Sekali lagi, selamat HARI KEMERDEKAAN, Republik Indonesia!

Sebuah Renungan Untuk yang Merasa Dirinya Sudah Merdeka

2009 August 22
by penulisbejana

Tujuh belas agustus tahun 45
itulah hari kemerdekaan kita…
hari merdeka nusa dan bangsa
hari lahirnya bangsa Indonesia
Meeerrrdeeeekaaaa…

Itulah petikan dari lagu Tujuh Belas Agustus yang sering kita nyanyikan diwaktu merayakan hari kemerdekaan Indonesia. Setelah hampir dua tahun meninggalkan tanah air tercinta dan telah absen absen dari upacara bendera setiap tanggal 17 Agustus pagi telah mambuatku merindukan momen-momen bersejarah itu. Padahal sewaktu aku duduk di bangku sekolah dari kelas satu sekolah dasar sampai kelas tiga sekolah menengah atas, aku selalu mancari alasan untuk manghindari upacara bandera 17an. Dan entah kenapa setelah aku meninggalakan tanah air aku baru sadar betapa aku merindukannya.

Pada peringatan tujuh belas agustus tahun ini aku mendapatkan kesempatan untuk menghadiri upacara yang diselenggarakan oleh Konsulat Jendral Republik Indonesia yang berada tidak jauh dari kampusku ya kalau dihitung sekitar 3 jam dengan manggunakan mobil pribadi dengan kecepatan diatas 110KM/Jam, dari pada ke kedutaan besar yang letaknya di ibukota Negara ini memerlukan waktu 7-8 jam dari kampus.

Perjuangan menuju tempat “impian” dimulai pagi hari, aku bersama teman-teman sesama jurnalis persatuan pelajar Indonesia berangkat mandahului matahari. Setelah menuanikan sholat subuh kami semua berangkat dengan 5 buah mobil yang mangangkut 5 orang setiap mobil. Diperjalanan kami dimanajakan dengan pemandangan pagi hari sebuah negeri bagian bernama kedah yang masih berkabut dan juga ketika matahari terbit di ufuk timur. Temanku yang bertugas mengemudi mobil mamacu dengan kecepatan diatas batas yang diperbolehkan di jalan tol demi mengejar waktu pelaksanaan yang diinformasikan akan dilaksanakan pada pukul 8.30 waktu setempat. Kami sampai di kediaman bapak konsul jendral pada pukul 9 waktu setempat dan kami sudah ketinggalan setengah prosesi upacara tapi kami tetap puas melihat sangsaka Merah Putih berkibar dengan megahnya di Negara lain.

Tanggal 17 Agustus 2009 Indonesia merayakan hari kemerdekaannya yang ke 64. Di umur yang sudah cukup matang bagi sebuah Negara hal yan patut kita pertanyakan adalah ‘Apakah kita sudah merdeka?’ kalau kita tinjau secara toritis memang Indonesia sudah merdeka, akan tetapi dalam praktiknya Indonesia belum sepenuhya merdeka. Hal ini dapat dibuktikan dari berbagai aspek sebagai contoh Ekonomi, Indonesia masih menggantungkan ekonominya dari sektor ekspor dan impor padahal jika kita menelaah lebih dalam Indonesia memiliki potensi untuk maju dengan tanaga sendiri tanpa campur yangan Negara lain. Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah dan sumber daya manusia yang tak terhitung tetapi mengapa kita basih bergantung pada Negara lain? Menurut beberapa artikel/jurnal yang aku baca beberapa Negara tetangga Indonesia mangakui kehebatan Indonesia sebagai contoh Singapore, Negara kecil ini tidak akan mampu seperti sekarang jika bukan kerena campur tangan Indonesia. Setiap tahun banyak turis dari Indonesia berkunjung ke Singapore hanya untuk manghabiskan uang untuk berbelanja disana, hal ini berarti menghasilkan devisa untuk Negara Singapore. Malaysia, adalah Negara yang banyak bergantung kepada Indonesia karena tenaga kerjanya. Tenaga kerja Indonesia di Malaysia berjumlah hampir dua puluh ribu orang mulai dari yang teratas iaitu para professional di bidangnya maupun yang terendah iaitu para buruh dan pembantu rumah tangga.

Pendidikan, Indonesia jelas masih belum merdeka dari segi pendidikan, walaupun pemerintah saat ini telah menetapkan kebijakan bebas biaya sekolah untuk wajib belajar 9 tahun tapi di beberapa daerah khususnya daerah pedalaman masih banyak rakyat Indonesia yang tidak bisa merasakan betapa indahnya pendidikan. Hal ini bukan karena tidak digratiskannya sekolah tetapi kerena keadaan bangunan sekolah yang sangat memprihatinkan dan tidak layak untuk digunakan dalam proses belajar mengajar. Indonesia banyak memiliki tenaga profesional tetapi bukan di dalam negeri melaikan di luar negeri. Tanaga ahli Indonesia tersebar hampir di seluruh penjuru dunia, mereka telah berprestasi di bidangnya masing-masing. Indonesia memiliki sumber alam yang melimpah tetapi kekurangan tenaga ahli untuk memprosesnya dari barang mentah menjadi barang siap guna, tapi mengapa para tenaga ahli indonesia tidak mahu kembali ke tanah air dan membangun negaranya? Kesejahteraanlah jawabannya.

Kesejahteraan penduduk, Angka kemiskinan di Indonesia masih cukup tinggi. Dibeberapa tempat masih banyak terlihat kondisi yang sangat memprihatinkan masih banyak bangunan-bangunan kumuh di bantaran kali, di bawah jembatan disekitar tempat pembuangan sampah, dan masih banyak pedesaan tertinggal yang tidak ada pasokan listrik maupun air bersih, untuk mandi, masak dan mancuci saja mereka masih manggantungkan air sungai yang kebersihannya dipertanyakan. Kita tidak bisa menyalahkan pemerintah begitu saja. Ironis memang, Negara kita kaya akan sumber alamnya dikemanakan uang itu? Pemerintah dari tahun ke tahun selelu berusaha mengurangi persentase kemiskinan karena hal ini menjadi indicator keberhasilan suatu periode pemerintahan akan tetapi hal ini tidak semudah membalikkan telapak tangan banyak hal lain yang harus diperhatikan oleh pemerintah selain dari mengurusi angka kemiskinan.

Pemerintah tidak akan berhasil tanpa dukungan rakyat, dan rakyat tidak akan teratur tanpa ada yang mengatur. Untuk itulah diperlukan kerjasama yang baik antara pemerintah dan rakyatnya. Lupakanlah unsur golongan yang selama ini memecah belah rakyat Indonesia, marilah bersatu untuk Indonesia yang lebih baik. Merdeka Indonesiaku, merdeka tanah airku. Aku cinta padamu.

BEJANA (Journalistic Club) Video Presentation

2009 July 31
by penulisbejana