Skip to content

Merdeka Untuk Menjadi Miskin

August 23, 2009

Selamat Hari Kemerdekaan yang ke-64, Republik Indonesia!

Merdeka adalah saat dimana kita bebas untuk berbangga menjadi diri sendiri, dan bukan malah malu dan berpura-pura menjadi orang lain.

Masih segar di ingatan saya, suatu hari di Taiwan ketika saya memperkenalkan Indonesia didepan teman-teman Aiesecer Taiwan dan teman-teman sesama Exchange Participant.

Ketika itu saya memasang foto perayaan 17an, dimana sedang dilaksanakan lomba panjat pinang.

Salah seorang rekan dari Canada pun spontan bertanya kepada saya, “Ada apa dengan sepeda-sepeda di atas pohon itu?”

Saya tersenyum.

“Pada kenyataannya, Indonesia bukanlah negara yang kaya. Sebagian besar rakyat kami masih berkutat dibawah garis kemiskinan. Inilah cara kami, orang-orang miskin, untuk merayakan kemerdekaan. Dengan aktivitas kerakyatan yang sederhana dan hadiah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kami saja.”

Semua orang di ruangan itu terdiam.
Ada yang mengernyit, ada yang menganga.

Apa yang salah sih dengan mengaku miskin? Menjadi miskin bukan sesuatu yang memalukan, kok. Yang memalukan itu kalo ketahuan maling, nyontek, fitnah orang… lah ini??!

Jujur saya sudah muak sama mindset manusia jaman sekarang. Pengennya kaya, berkuasa, populer, dsb dsb yang berbau materi semua. Apa sih yang begitu hebatnya dari menjadi kaya?

Saya pernah baca artikel tentang bangsa paling bahagia di KASKUS dan saya sungguh tercengang ketika mendapatkan fakta bahwa bangsa paling bahagia di dunia ini bukanlah bangsa yang paling kaya, paling berkuasa, atau paling populer.

Bangsa yang paling bahagia di dunia ini, menurut artikel tersebut, adalah Denmark.

Untuk detailnya, mungkin anda bisa merujuk ke artikelnya. Tapi yang ingin saya tekankan disini, materi tidak bisa membeli kebahagiaan.

Coba anda perhatikan foto dibawah ini:

Ironis sekali.

Kadang saya bertanya-tanya sendiri, bagaimana Indonesia, yang semua orang tahu merupakan negara miskin sekarang, sebagian rakyatnya masih sangat konsumtif sekali.

Fenomena Blackberry, misalnya.
Sungguh heran saya melihat bahkan ABEGE di Indonesia (yang notabennya masih bergantung sama orang tua) pun sudah banyak yang mengantongi BB. Untuk apa? Online Facebook 24 jam?

Atau fenomena fastfood yang benar-benar menggelikan.
Bagaimana mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia sangat berbangga hati bisa pergi makan ke KFC, sementara di negara-negara maju makan fastfood merupakan pilihan terakhir yang akan diambil.

Saya melihat rakyat kita berada dalam penjara pikiran yang kita ciptakan sendiri.
Kita tidak mau dinilai miskin. Kita ingin terlihat seperti bangsa-bangsa kaya diluar sana, yang akhirnya malah membuat kita jadi terlihat bodoh.

Pastilah industri-industri elektronik gadget seperti Apple dan Nokia sedang menertawai kita sekarang. Begitu juga dengan industri kendaraan, baik beroda dua atau empat.

Kenyataannya, bangsa-bangsa diluar sana mulai menyadari bahwa materi, sungguh, tidak bisa membeli kebahagiaan. Mereka mulai kembali ke kehidupan yang sederhana, mulai mengganti gaya hidup mereka ke gaya hidup sehat dan mencintai lingkungan.

Sementara kita, yang awalnya sudah berada pada tahap itu, baru mulai bergerak ke gaya hidup hedon yang mulai bangsa lain tinggalkan.

Saya benar-benar merindukan cengiran bocah yang kegirangan bisa mandi hujan, dan bukannya diam-diam membeli kondom.

Saya merindukan nikmatnya makan lalapan dan petai dengan sambal terasi, dan bukannya meneguk wine di restoran bintang tujuh.

Apakah masih ada pemuda/pemudi yang benar-benar bangga menjadi orang Indonesia?
Yang menikmati tarian bali, musik gamelan, dan budi bahasa yang indah?
Yang masih menghargai norma-norma kesopanan dan kesusilaan?
Yang tidak mengeluh ketika diajak pergi ke pasar tradisional?

Mari kita sama-sama memikirkan jawabannya.

Kembali teringat, dalam penutupan presentasi saya tentang Indonesia di Taiwan hari itu:

Seperti yang anda lihat, Indonesia bukanlah negara kaya. Kebanyakan perayaan yang kami adakan memang sangat sederhana, dan mungkin anda semua tidak bisa melihat letak menyenangkannya. Tapi tak apalah. Karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda tentang kebahagiaan. Bagi kalian mungkin kebahagiaan adalah ketika setiap orang memiliki ruang masing-masing. Tetapi bagi kami, kebahagiaan adalah ketika berbagi sesuatu yang sedikit dengan banyak orang. Bagi bangsa miskin seperti kami, hal-hal seperti yang saya tampilkan tadi adalah kebahagiaan kami. Dan saya selalu bahagia menjadi bagian dari bangsa miskin ini.

Sekali lagi, selamat HARI KEMERDEKAAN, Republik Indonesia!

Advertisements
5 Comments leave one →
  1. August 24, 2009 7:30 am

    Ya begitulah memang keadaan kita sebagai bangsa indonesia. kalau dipikir2 memang ironis sekali di saat yang lain sedang bersenang-senang dgn kekayaannya di lain pihak untuk makan pun sulit.
    yang menjadi tugas kita sekarang adalah memperbaiki citra indonesia baik ke dalam maupun ke luar.

  2. October 14, 2009 11:03 am

    Untuk baca referensi silang, silakan pelajari apa yang saya tulis dalam artikel Membeli Kebahagiaan. Semoga membantu.

    Salam kenal.

    Lex dePraxis

    • October 14, 2009 11:38 pm

      Referensi yang menarik. Terima kasih sudah mengunjungi blog kami. Salam kenal juga 🙂

  3. tari permalink
    October 20, 2013 12:02 am

    Nice post Tasya!

Trackbacks

  1. Highlight « Buletin Bejana’s Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: